Entri Populer

Selasa, 06 Oktober 2009

KERINDUAN


" Rembulan itu telah sempurna
Malam ini purnama
Awan gelap melukis mega
Hanya terang temaram memberi cahya
Rembulan ini kepedihan
Hembus bayu membawa kerinduan
Ada sekeping kalbu
Terisak tak terperikan
Berharap kekasih tak pergi dalam genggaman.."

Surabaya, 24 September 2009
17:38


" Untuk api cinta yang tak pernah padam
Untuk gelora rindu yang tak pernah diam
Untuk bisik hati dipenghujung malam
Ada jiwa sayu dalam temaram.."

Surabaya, 11 September 2009
17:50


" Itukah cinta
Tiada tempat ia tiada.."

Surabaya, 10 September 2009
15:31


" Akan banyak puisi tercipta
Akan berbuih kata cinta
Akan ada samudra rasa
Tentang rindu yang menggelora
Ketika aku dan engkau tiada bersua.."

Surabaya, 01 September 2009
17:42


" Kerinduanku bisu
Dibalik senyum menggelora
Pipi rona merah tersipu
Kerinduan ini tetaplah kerinduan
Ketika ia datang mendekap
Mulut diam senyap.."

Surabaya, 29 Agustus 2009
10:22


" Kerinduan ini..
Tetaplah sebuah kerinduan
Ia datang..
Senyap mendekap
Kemudian menggelora entah kemana
Ia hilang dan lenyap.."

Surabaya, 19 Agustus 2009
17:29

KERINDUAN

Kerinduan ini..
Tetaplah sebuah kerinduan
Ia datang..
Senyap mendekap
Kemudian menggelora entah kemana
Ia hilang dan lenyap


Surabaya, 19 Agustus 2009
17:29

Selasa, 29 September 2009

CINTA YANG SEDERHANA


Aku, mencinta sederhana saja
Biasa, tidak menggelora.
Aku cemburu hanya sambil lalu
Tidak memburu ataupun menggebu.
Tidak memaksa apalagi mendamba.
Aku hanya tunaikan Sang Penguasa Hati
Agar berbagi dan saling memberi
Agar mencintai dan saling mengasihi.


Jangan-jangan aku jatuh cinta
Pada hati semerbak bunga
Pada senyum yang menggelora
Pada malu yang merona
Surabaya, 02 Juli 2009

Kadang ragu itu memburu
Kadang cemas itu membekas
Surabaya, 04 Juni 2009
06:42

CINTA YANG SEDERHANA

Aku, mencinta sederhana saja
Biasa, tidak menggelora.
Aku cemburu hanya sambil lalu
Tidak memburu ataupun menggebu.
Tidak memaksa apalagi mendamba.
Aku hanya tunaikan Sang Penguasa Hati
Agar berbagi dan saling memberi
Agar mencintai dan saling mengasihi.


Jangan-jangan aku jatuh cinta
Pada hati semerbak bunga
Pada senyum yang menggelora
Pada malu yang merona
Surabaya, 02 Juli 2009

Kadang ragu itu memburu
Kadang cemas itu membekas
Surabaya, 04 Juni 2009
06:42

Kamis, 27 Agustus 2009

MEMBERI NILAI LEBIH



Saat hujan gerimis, seorang penjual bakso nampak berteduh di sebuah halte yang telah sepi, karena memang hari menjelang senja. Sambil menggusap wajahnya yang telah basah oleh air hujan, penjual bakso tiada henti memaki gerimis yang datang disaat ia mulai berjualan. Penjual bakso berpikir, jika hujan telah tiba maka ia tidak dapat kemana-mana kecuali hanya berteduh di halte, seperti yang ia lakukan saat ini. Dapat dibayangkan, berapa banyak kerugian yang ia dapatkan jika tak satupun orang datang untuk membeli baksonya.
Pada saat gerimis yang sama, disudut kota yang lain, ada penjual bakso dengan semangat riang gembira, seolah ia tidak memperdulikan air yang tiada henti mengguyur gerobaknya. Terbayang dalam kepala abang bakso, jika gerimis telah datang maka udara dingin akan mendekap setiap gang yang ia datangi. Harapannya, suasana ini menjadikan orang-orang ingin menikmati makanan-makanan hangat, seperti bakso yang ia jual. Sebuah keuntungan besar akan ia dapatkan dari hujan yang mengguyur disore hari.
***
Adzan sudah berhenti berkumandang, di serambi sebuah masjid seorang pemuda nampak gelisah menunggu iqamat shalat. Jari tangannya tiada henti memencet-mencet tombol handphone, ia mencoba menghabiskan waktu dengan bermain game di handphone.
“ huh.. lama banget iqamatnya, nunggu apa sih.” Gerutu si pemuda.
Pada masjid yang sama, di salah satu sudut masjid yang lain. Seorang pemuda dengan wajah tenang duduk bertafakur, kedua tangannya terangkat memanjatkan doa. Ia nampak menikmati munajatnya. Pemuda itu berharap agar iqamah tidak segera dikumandangkan, karena masih banyak doa-doa yang ingin ia panjatkan. Ia yakin akan janji Allah swt, bahwa waktu diantara adzan dan iqamat adalah waktu yang istimewa, dimana setiap doa akan dikabulkan Allah.
***
Cerita diatas mungkin segelintir kisah dalam keseharian kita. Banyak peristiwa terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, namun dari satu peristiwa yang sama dapat memberikan hasil yang bebeda ketika kita salah mensikapinya. Ada penjual bakso yang menganggap gerimis adalah musibah, dan ada penjual bakso lain menjadikan gerimis sebuah berkah. Semua kembali kepada kita dalam mensikapinya.
Kita tidak dapat memaksa gerimis untuk berhenti, ataupun kita tidak dapat memaksa muadzin untuk segera iqamat. Ternyata yang dapat kita lakukan adalah memberi nilai terhadap setiap peristiwa yang terjadi. Jelas berbeda antara penjual bakso yang menyerah dan berhenti di halte, dengan penjual bakso yang tetap berkeliling walau hujan gerimis. Akan berbeda nilainya juga antara orang yang menghabiskan waktu dengan bermain game dengan orang yang bertafakur, walaupun dalam satu masjid yang sama.
Suatu masalah pelik yang kita hadapi, bisa jadi itu bukanlah suatu masalah ketika kita benar dalam mensikapinya. Kadang kita mendramatisir keadaan dengan berpikiran negatif, padahal belum tentu hal itu terjadi, hanya angan-angan kita saja.
Kadang kita menggerutu tiada henti, ketika jadwal kereta tertunda. Atau ketika seorang teman terlambat dalam janjian. Kita merasa waktu akan terbuang percuma untuk menunggu kereta ataupun taupun untuk menunggu kedatangan seorang teman. Tetapi tahukah bahwa sesungguhnya banyak hal dapat dilakukan ketika kita sedang menunggu. Ada sebuah ungkapan sederhana yang menggambarkan berapa nilai aktifitas kita:
Bagi seorang pengemis, setengah jam adalah waktu untuk menunggu orang lain memberinya uang seribu rupiah.
Bagi seorang penulis, setengah jam adalah waktu untuk mengarang satu bab buku.
Bagi seorang santri, setengah jam adalah waktu untuk membaca satu juz kitab suci dan berdzikir mengagungkan Rabbnya.
Bagi seorang ilmuwan, setengah jam adalah waktu untuk menemukan teori baru yang mengubah dunia.
Hmm…sekarang kita bertanya kepada diri kita, apa yang dapat kita lakukan dengan waktu tigapuluh menit.? Ketika sebuah peristiwa terjadi tidak sesuai dengan rencana kita. Akankah kita diam menunggu, sebagaimana pengemis yang berharap orang lain akan merubah nasibnya, ataukah kita yang bergerak untuk memberi nilai terhadap waktu yang kita miliki.
Ketika peristiwa telah terjadi diluar skenario kita, maka menyesali dan menggerutu tidaklah menyelesaikan masalah. Ketika nasi sudah menjadi bubur, menangisi dan memakinya tidaklah menjadikan bubur kembali menjadi nasi, yang dapat kita lakukan adalah mengambil irisan bawang goreng dan menambahkan irisan daging ayam. Jadilah bubur ayam yang lezat. Dengan sedikit aktifitas, kita telah memberi nilai berbeda dari sebuah peristiwa. Jangan menyerah…

SURABAYA, 27 August 2009

Selasa, 07 Juli 2009

PERNIKAHAN IDA - BOBBY

SUPERMARKET MENJUAL ISTRI DAN SUAMI

Ada sebuah cerita menarik yang saya baca dari sebuah majalah, kisah tentang supermarket SUAMI / ISTRI. Dalam supermarket itu Tuhan menyediakan calon suami untuk para wanita dan calon istri bagi para pria. Ada peraturan bagi para pengunjung supermarket itu, bahwa toko itu hanya buka sekali dalam seumur hidup, supermarket terdiri dari lima lantai, setiap orang yang datang ke lantai atas tidak dapat kembali lagi ke lantai di bawahnya, hanya ada satu arah sehingga orang tidak dapat kembali lagi ke belakang.
Pada hari yang telah ditentukan, semua orang berduyun-duyun masuk supermarket melewati pintu yang dibedakan antara pria dan wanita.
Para wanita bergegas masuk ke ruangan pertama, pada lantai pertama tertulis : ruangan ini menyediakan calon suami yang sholeh dan perhatian. Maka para wanita bergegas naik ke lantai berikutnya, berharap mendapat calon suami yang lebih bagus lagi.
Di ruangan lantai dua tertulis : menyediakan calon suami yang sholeh, perhatian dan sayang keluarga. Tetapi para wanita buru-buru naik ke lantai atas lagi. Berharap mendapat lebih baik lagi.
Di ruangan lantai tiga tertulis : menyediakan calon suami yang sholeh, perhatian, sayang keluarga dan tampan. Hanya sedikit wanita yang memilih di lantai tiga, sebagian besar cepat-cepat naik ke lantai empat untuk mendapatkan yang lebih baik.
Di ruangan lantai empat tertulis : menyediakan calon suami yang sholeh, perhatian, sayang keluarga, tampan dan kaya. Di lantai inipun para wanita banyak yang tidak puas, bergegas mereka naik ke lantai lima dengan pengharapan akan tersedia calon suami yang paling bagus dari lantai sebelumnya.
Ketika semua pengunjung telah berada di lantai lima, di layar besar tertulis : selamat, anda adalah pengunjung ke 1.362.756, sama seperti pengunjung sebelumnya, pada lantai ini tidak tersedia calon suami, ruangan ini hanya untuk membuktikan bahwa anda termasuk orang yang tidak pernah puas.
Maka semua orang yang berada di lantai lima keluar dengan wajah menyesal, mereka tidak bisa kembali ke lantai sebelumnya, dan mereka tidak bisa masuk supermarket calon suami untuk kedua kali.
Kejadian sama dialami juga para pria yang masuk ke supermarket calon istri, ketidakpuasan telah menjadikan mereka pulang dengan tangan hampa.
Bagaimana dengan njenengan.?

Surabaya, 02 Juni 2009
21:28